Mengamati kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) konstruksi memerlukan upaya pembinaan yang berkelanjutan agar menghasilkan SDM yang produktif dan kompeten, tentunya dapat dilakukan dengan meningkatkan keterampilan dan keahlian melalui pelatihan yang berbasis pada kompetensi.

          Perencanaan, penyelenggaraan pelatihan, uji sertifikasi dan pemberdayaan tenaga kerja yang sudah dilatih dan disertifikasi tidak dapat hanya dengan pendekatan biasa, diperlukan terobosan dan pendekatan baru.

          Hal penting yang harus disadari adalah konsekuensi dari pertumbuhan pembangunan infrastruktur dunia termasuk di Indonesia saat ini, dimana tidak hanya dari sisi jumlah tenaga kerja konstruksi yang harus dipenuhi tetapi sekaligus tuntutan tenaga kerja kompeten dan berdaya saing terhadap pasar konstruksi global.  Jika itu terpenuhi, pada gilirannya akan mampu mendorong tercapainya Sumber Daya Manusia tenaga kerja konstruksi yang semakin meningkat setiap tahun, dari 4,7 juta (BPS 2006) menjadi 6,9 juta (BPS 2013) dengan pertumbuhan sekitar 6% pertahun.

           Disamping itu pemberlakuan AFTA 2010 dan ASEAN Community 2015 membawa konsekuensi terhadap masuknya tenaga kerja asing di bidang industri konstruksi. Masuknya tenaga kerja asing cukup mengkhawatirkan karena di dalam negeri, dari sekitar 6,9 juta tenaga kerja konstruksi, yang bersertifikat baru 400.000 orang yaitu 100.000 tenaga ahli, dan 300.000 tenaga terampil (BPS, 2013). Gambaran di atas menuntut upaya nyata dan berkesinambungan bagi pelaku sektor konstruksi untuk menjawab tantangan dan kebutuhan SDM konstruksi nasional maupun global.